Orang Buton Punya

Komentar Para Pembaca Akan Sangat Membantu Dalam Memperkaya Khasanah Blog Ini

METODOLOGI PERBANDINGAN PEMERINTAHAN KONSEP DAN APLIKASI (1)

Posted by orangbuton pada 21 Maret 2009

A. Pendahuluan

Dalam penulisan makalah ini kami mencoba membahas metodologi ilmu pemerintahan khususnya studi perbandingan (komparatif) dalam mengkaji gejala-gejala dan peristiwa pemerintahan. Berangkat dari pemahaman metodologi ilmu pemerintahan melihat gejala dan peristiwa dilakukan dengan melalui metode-metode dan tehnik-tehnik yang lazim dilakukan oleh ilmu-ilmu pengetahuan social dan ilmu pengetahuan perilaku (Sumargono : 1985), dan sejalan dengan pendapat tersebut Sadu Wasistiono;2003, mengatakan Ilmu pemerintahan sebagai bagian dari ilmu social dapat menggunakan metodologi yang digunakan dalam ilmu social.

Makalah ini di dalam penulisannya terbagi dua bagian yaitu, pada bagian pertama mengkaji metodologi ilmu pemerintahan dilihat dari studi perbandingan (comparative study) secara konsep dan teori, selanjutnya pada bagian kedua melakukan perbandingan sistim pemerintahan daerah (local government) pada Negara Perancis dan sistim Negara Indonesia dengan melihat secara aspek terapan (aplikasi), sebagaimana pendapat H.F.Brasz dalam Sumargono (1995) bahwa perkembangan ilmu pemerintahan boleh dikatakan bahwa ilmu pemerintahan itu tumbuh di dalam dan melalui praktek-praktek penyelenggaraan pemerintahan. Dengan melakukan perbandingan sistim pemerintahan sebagai tools of knowledge tersebut akan dipergunakan untuk menganalisa dan mengelola secara sistimatis gejala-gejala pemerintahan yang diteliti. Dan mengingat bahwa ilmu pemerintah itu adalah ilmu yang bersifat terapan, maka hasil dari analisa tersebut harus pula dapat dipergunakan oleh para penyelenggara pemerintahan dalam melakukan tugas-tugasnya. Latar belakang mengapa melakukan perbandingan sistim pemerintahan daerah adalah karena sesuai dengan bidang kajian kita Administrasi Pemerintahan Daerah.

B. Metodologi Studi Komparasi

Manusia sebagai mahluk social sebenarnya sudah dibekali dengan hasrat ingin tahu, untuk memperoleh pengetahuan. Dalam pengembangan pengetahuan tersebut dalam rangka memenuhi hasrat ingin tahu, seseorang dalam menghadapi suatu masalah dapat menggunakan berbagai cara yang dapat dikelompokkan dalam pendekatan ilmiah dan non ilmiah.

Untuk mengungkapkan rasa inigin tahu dalam melihat realita menurut Henle dalam Bruce A.Chadwick, dkk (1991), menyebutkan lima cara yang berbeda untuk mengetahui Yaitu :

1) Secara manusiawi

2) Ilmiah

3) Filosofis

4) Matematis

5) Dan teologis

Empat metode untuk memahami sesuatu (methods of knowing) menurut Pierce dalam Sadu Wasistiono (2003) yaitu :

1) The method of tenacity

2) The method of authority

3) The apriory method

4) The method of science

Selanjutnya Muhammad Musa dan Titi Nurfitri (1988) menyatakan bahwa pendekatan dalam memahami suatu masalah yaitu

1. Pendekatan non ilmiah

Banyak cara penyelesaian suatu masalah yang dapat digolongkan dalam pendekatan non ilmiah yaitu;

a. Akal sehat (common sense)

b. Metode kebiasaan (Method of tenacity)

c. Metode kekuasaan (Method of Authority)

d. Pendekatan intuitif

e. Penemuan kebetulan dan coba-coba

2. Pendekatan ilmiah

Beberapa ciri khas metode ilmiah

a. Pelaksanaannya harus sistimatis dengan aturan-aturan tertentu dalam langkah-langkah dan prosedurnya.

b. Pelaksanaannya harus teliti dan hati-hati

c. Pelaksanaanya harus bersifat skeptis

d. Langkah-langkah yang diambil harus logis dan obyektif

Untuk berkembang menjadi ilmu, suatu pengetahuan dapat dikatakan ilmu jika mempunyai ciri-ciri (Sadu Wasistiono ;2003), sebagai berikut :

1) Mempunyai obyek tertentu

2) Bersifat empiris

3) Memiliki metode tertentu

4) Sistimatis

5) Dapat ditransformasi

6) Bersifat universal dan bebas nilai.

Selanjutnya Sadu Wasistiono (2003) mengatakan penelitian termasuk ke dalam metode ilmiah, sebagai metode memahami yang paling baik guna memperoleh kebenaran ilmiah, penelitian (research) merupakan kegiatan ilmiah dalam rangka pemecahan suatu permasalahan. Fungsi penelitian adalah mencari penjelasan dan jawaban terhadap permasalahan serta memberikan alternatif bagi kemungkinan yang dapat digunakan untuk pemecahan masalah (Saifuddin Azwar:1998). Hal tersebut juga dikatakan Sugiyono (2001) kegiatan penelitian dilakukan dengan tujuan tertentu, dan pada umumnya tujuan itu dapat dikelompokkan menjadi tiga hal utama yaitu untuk menemukan, membuktikan, dan mengembangkan pengetahuan tertentu dengan implikasi dari hasil penelitian akan digunakan untuk memahami, memecahkan dan mengantisipasi masalah. Sejalan pendapat diatas Husein Umar (2001) menyatakan bahwa penelitian (riset) adalah suatu usaha untuk menemukan suatu hal menurut metode ilmiah , sehingga riset memiliki tiga unsur penting, yaitu sasaran, usaha untuk mencapai sasaran serta metode ilmiah.

Donny Gahral Adian (2002) dalam bukunya Memahami Obyektivisme Ilmu Pengetahuan, menyatakan, banyak yang masih menyamakan pengertian metode dan metodologi, sebenarnya dua konsep itu memiliki pengertian yang berbeda satu sama lain. Metode merupakan langkah-langkah sistimatis yang digunakan dalam ilmu tertentu yang tidak direfleksikan atau diterima begitu saja. Metode lebih bersifat spesifik dan terapan. Sedangkan metodologi merupakan bagian dari sistimatika filsafat yang mengkaji cara-cara mendapatkan pengetahuan ilmiah. Metodologi tidak memfokuskan diri pada cara pemerolehan ilmu tertentu saja melainkan pengetahuan umumnya. Obyek kajian metodologi adalah ilmu pengetahuan sedang sudut pandangnya adalah cara kerja ilmu pengetahuan.

Selanjutnya Donny Gahral Adian (2002) menyatakan metodologi bertujuan melukiskan dan menganalisis cara kerja yang absah untuk ilmu pengetahuan, serta kemudian dapat melihat kemungkinan merancang metode-metode baru sehubungan adanya gejala-gejala yang belum terpahami. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan metodologi terhadap ilmu pengetahuan adalah pertanyaan yang amat mendasar tentang cara kerja ilmu yang mungkin tidak pernah disadari oleh para ilmuwan itu sendiri. Pertanyaan-pertanyaan metodologis timbul dari kebutuhan manusia untuk mereflesikan kegiatan-kegiatannya yang mendasar dan hakiki. Refleksi tersebut bermaksud merumuskan, mengkritik, dan memperbaiki aturan-aturan untuk kegiatan keilmuwan, serta mengintegrasikan kegiatan tersebut sejauh mungkin ke dalam kerangka pemahaman manusia yang lebih luas tentang dunia dan kehidupan. Cholid Narbuko dan Abu Achmadi (1997) menyatakan metodologi berasal dari kata metode yang artinya cara yang tepat untuk melakukan sesuatu; logos yang artinya ilmu atau pengetahuan, sehingga metodologi artinya cara melakukan sesuatu dengan menggunakan pikiran secara seksama untuk mencapai suatu tujuan. Sadu Wasistiono (2003) methodology : the systematic and critical study of methods and techniques.

Metodologi suatu ilmu secara formal embedded di dalam definisi ilmu yang bersangkutan dan secara subtantif ditunjukan oleh aksioma, anggapan dasar, pendekatan dan model analisis dan model konstruk , pengalaman dan konsep (Taliziduhu Draha ;1997)

Sebagai disiplin ilmu berdiri sendiri, ilmu pemerintahan membutuhkan metodelogi untuk untuk membantu manusia meningkatkan pengetahuannya untuk menafsirkan fenomena-fenomena pemerintahan yang kompleks dan saling berkaitan. Hal ini dikatakan Djohermansyah Djohan (1997) fenomena pemerintahan yang terjadi di dalam penyelenggaraan suatu negara biasanya selalu menarik untuk dikaji dan dibicarakan. Karena dari sanalah orang dapat menyimak persoalan-persoalan actual yang dihadapi oleh suatu system pemerintahan dan memperhatikan bagaimana cara-cara pengelola pemerintahan menanganinya. Sadu Wasistiono (2003) menyatakan gejala-gejala pemerintahan dapat dilihat dari pemerintahan sebagai sebuah system social gejala tersebut dapat dilihat secara idiograhic atau nomothetic analysis melalui pendekatan longitudinal maupun cross-sectionasl dan pemerintahan sebagai suatu system kekuasaan menyangkut menjalankan kekuasaan yang syah.

Selanjutnya Sadu Wasistiono (2003) mendefinisikan ilmu pemerintahan adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara rakyat dengan organisasi tertinggi negara (pemerintah) dalam konteks kewenangan dan pemberian pelayanan. U.Rosenthal dalam Sumargono (1995) menyatakan sebagai ilmu secara otonom mempelajari bekerjanya struktur-struktur dan proses-proses dari pemerintahan Negara, baik secara internal maupun secara ekternal.

Mengenai pokok-pokok metodologi yang digunakan untuk memahami gejala pemerintahan, sama dengan metodologi penelitian social dimana Ilmu pemerintahan sebagai bagian dari ilmu social dapat menggunakan metodologi yang digunakan dalam ilmu social (Sadu Wasistiono;2003), yaitu :

1) Studi kasus

2) Studi sejarah

3) Studi banding

4) Pendekatan legalistic

5) Pendekatan system

6) Pendekatan paradigmatic

Dalam pembahasan makalah ini akan dititikberatkan tinjauan studi komparasi atau studi banding dalam melihat gejala pemerintahan.

Dalam konteks studi atau penelitian komparatif sebagaimana dikatakan Moh. Nasir (1983) adalah sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawab secara mendasar tentang sebab akibat, dengan menganalisa factor-faktor penyebab terjadinya atau munculnya suatu fenomena tertentu. Jangkauan waktu adalah masa sekarang, karena jika jangkauan waktu terjadinya adalah masa lampau, maka penelitian tersebut termasuk metode sejarah.

Sependapat dengan pernyataan diatas Rusidi (2002) dalam Diktat Metodologi Penelitian pada PPs-MAPD STPDN, mengatakan deskripsi adalah pengetahuan ilmiah yang tidak memahami kausalitas hakiki dan universal, yang menggambarkan (melukiskan) satu fenomena ataupun sejumlah fenomena, baik yang berupa wujudnya, prosesnya maupun fungsinya. Oleh karena itu suatu deskripsi dapat menunjukan perbedaan-perbedaan dari sesuatu yang sama atau persamaan-persamaan dari sesuatu yang berbeda dan menghasilkan perbandingan-perbandingan (komparasi).

Hal ini dipertegas pula oleh S.H.Sarundajang (2001), menyatakan telaah deskriptif adalah sebuah tehnik pengkajian yang dilakukan dengan cara menganalisa beberapa parameter yang dipandang determinan bagi sebuah topik yang dipelajari. Tujuannya ialah untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai topic yang dimaksud, termasuk kemungkinan adanya persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan dalam hal parameter tertentu.

Herman Suwardi (1996), menyatakan bahwa komparasi adalah membandingkan/merangkaikan konsep-konsep, membandingkan adalah melihat kesamaan (dari yang berbeda) dan melihat perbedaan (dari yang sama).

Selanjutnya Moh. Nasir (1983) dalam studi komparatif ini , memang sangat sulit untuk mengetahui factor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding, sebab penelitian komparatif tidak mempunyai control, hal ini semakin nyata kesulitannya jika kemungkinan-kemungkinan hubungan antar fenomena banyak sekali jumlahnya. Metode penelitian komparatif adalah bersifat ex post facto, artinya data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung. Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia. Keunggulan metode ini adalah sebagai berikut:

1. Metode komparatif dapat mensubsitusikan metode eksperimental karena beberapa alasan;

a. Jika sukar diadakan control terhadap salah satu factor yang ingin diketahui atau diselidiki hubungan sebab akibatnya.

b. Apabila tehnik untuk mengadakan variable control dapat menghalangi penampilan fenomena secara normal ataupun tidak memungkinkan adanya interaksi secara normal.

c. Penggunaan laboratorium untuk penelitian untuk dimungkinkan, baik karena kendala tehnik, keuangan maupun etika dan moral.

2. Dengan adanya tehnik yang lebih mutakhir serta alat statistic yang lebih maju, membuat penelitian komparatif dapat mengadakan estimasi terhadap parameter-parameter hubungan kausal secara lebih efektif.

Disamping keunggulan-keunggulan, penelitian komparatif mengadung kelemahan-kelemahan, antara lain :

1. Karena penelitan komparatif sifatnya ex post facto, maka penelitian tersebut tidak mempunyai control terhadap variable bebas. Peneliti hanya berpegang pada penampilan variable sebagaimana adanya, tanpa kesempatan mengatur kondisi ataupun mengadakan manipilasi terhadap beberapa variable. Karena itu, si peneliti diharapkan mepunyai cukup banyak alasan dalam mepertahankan hasil hubungan-hubungan kausal yang ditemukan, dan dapat mengajukan hipotesa-hipotesa saingan untuk membuat justifikasi terhadap kesimpulan-kesimpulan yang ditarik.

2. Sukar memperoleh kepastian, apakah factor-faktor penyebab suatu kausal yang diselidiki benar-benar relevan.

3. Karena factor-faktor penyebab bukan bekerja secara merdeka, tetapi saling berkaitan antara satu dengan yang lain, maka interaksi antar factor-faktor tunggal sebagai penyebab atau akibat terjadinya suatu fenomena sukar diketahui. Bahkan akibat dari factor ganda, bisa saja dikarenakan oleh factor luar cakupan penelitian yang bersangkutan.

4. Ada kalanya dua atau lebih factor memperlihatkan adanya hubungan, tetapi belum tentu bahwa hubungan yang diperlihatkan adalah hubungan sebab akibat. Mungkin saja hubungan variable tersebut dikarena oleh adanya keterkaitan dengan factor-faktor lain diluar itu. Di lain pihak, andai katapun telah ditemukan bahwa hubungan antara factor-faktor adalah hubungan sebab akibat, tetapi masih sukar untuk dipisahkan, factor mana sebagai penyebab dan factor mana sebagai akibat.

5. Mengkatagorikan subyek dalam dikotomi (misalnya dalam kategori demokrasi dan otoriter) untuk tujuan perbandingan dapat menjurus kepada pengambilan keputusan dan kesimpulan yang salah akibat kategori-klategori dikotomi yang dibuat mempunyai sifat kabur, bervariasi, samara-samar, menghendaki valuejudgement dan tidak kokoh.

Moh. Nasir (1983), menyebutkan langkah-langkah pokok dalam studi komparatif adalah sebagai berikut :

1. Rumuskan dan definisikan masalah

2. Jajaki dan teliti literature yang ada

3. Rumuskan kerangka teoritis dan hipotesa-hipotesa serta asumsi-asumsi yang dipakai

4. Buatlah rancangan penelitian

5. Pilih subyek yang digunakan dengan tehnik pengumpulan data yang diinginkan

6. Kategorikan sifat atau atribut-atribut atau hal-hal lain yang sesuai dengan masalah yang ingin dipecahkan, untuk memudahkan sebab akibat

7. Uji hipotesis buat interpretasi terhadap hubungan dengan tehnik statistic yang tepat

8. Buat generalisasi, kesimpulan serta implikasi kebijakan.

9. Susun laporan dengan cara penulisan ilmiah.

Dalam konteks ilmu pemerintahan, S.Pamudji (1983) dalam bukunya Perbandingan Pemerintahan mengatakan, kata perbandingan berasal dari kata banding, yang artinya timbang, yaitu menentukan bobot dari suatu obyek atau beberapa obyek. Dengan demikian kata perbandingan dapat disamakan dengan kata pertimbangan, yaitu perbuatan menentukan bobot sesuatu atau beberapa obyek, dimana untuk keperluan tersebut obyek atau obyek-obyek yang disejajarkan dengan alat pembandingnya. Dari pengertian ini dapat diperoleh persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan dari obyek atau obyek-obyek disejajarkan dengan alat pembandingnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa perbandingan adalah perbuatan menyejajarkan sesuatu atau beberapa obyek dengan alat perbandinganya. Dalam kaitan dengan pemerintahan, tentu saja obyek yang dibandingkan itu adalah pemerintahan dari suatu Negara (bangsa) tertentu dengan Negara (bangsa) lain.

Adapun tujuan studi perbandingan menurut S.Pamudji (1983) ialah mencoba memahami latar belakang, asas-asas yang melandasi, kelemahan-kelemahan dan keuntungan-keuntungan dari masing-masing system pemerintahan. Kegunaan lebih lanjut ialah bahwa melalui studi ini dapat dikembangkan dan dibina suatu sistem pemerintahan yang sesuai benar dengan waktu, ruang dan lingkungan yang ada di sekitar kita, dan lebih khusus lagi sesuai dengan kepribadian kita. Dengan studi perbandingan kita dapat menemukan persamaan dan perbedaan diantara berbagai system pemerintahan.

Selanjutnya S.Pamudji (1983) menyebutkan ukuran perbandingan antara lain :

1. Kediktatoran versus demokrasi

2. Negara kesejahteraan

3. Pendekatan perkiraan

4. Perlementer versus Presidensial

Menurut Ripley dikutip Sadu Wasistiono (2003) dalam The Study of Government menyatakan :

1. Focus studi pemerintahan : institusional

2. Metodenya : perbandingan (comparative)

3. Kegunaan : praktikal

Metode perbandingan yang dimaksud disini adalah membandingkan satu institusi dengan institusi lainnya yang sejenis. Di dalam pengertian perbandingan, terkandung adanya unsur yang sama dan unsur yang berbeda.

Selanjutnya Ripley menyarankan di dalam mempelajari pemerintahan, lebih mudah apabila digunakan pendekatan institusional (Institusional approach), sebab pada dasarnya pemerintahan adalah sebuah organisasi formal yang kompleks. Perbandingan kelembagaan pemerintahan dapat dilakukan dengan melihat aspek-aspek :

1. Kedudukan dan kewenanganya

2. Organisasinya

3. Kualitas dan kuantitas sumber daya aparaturnya

4. Kinerjanya

Rod Haque, dkk (1993) dalam bukunya Comparative Government and Politics ; An Introduction, Third Edition menyatakan most comparative studies focus on state, societies or policies. The advantages of studying politics comparatively are:

1. learning about other countries casts fresh light on our own.

2. comparison enables us to test general hypothses about politics.

3. comparison improves our classification of political processes.

4. comparison gives us some potential for prediction

About these ads

4 Tanggapan to “METODOLOGI PERBANDINGAN PEMERINTAHAN KONSEP DAN APLIKASI (1)”

  1. haldi said

    your writter or your makalah is the best.

  2. malik toduho said

    izin pak, saya maun mengcopy tulisan ini sebagai penambah referensi tugas dari prof. Sadu

  3. juma said

    Mantap juga

  4. MANTAP JGA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: