Orang Buton Punya

Komentar Para Pembaca Akan Sangat Membantu Dalam Memperkaya Khasanah Blog Ini

JALUR PERDAGANGAN NUSANTARA DI SULAWESI TENGGARA TEMPO DOELOE

Posted by orangbuton pada 21 November 2011

Keterangan mengenai posisi kesultanan Buton dalam Jalur Perdagangan di nusantara terdapat dalam laporan Tome Pires (1512-1515).  Menurut Pires perjalanan yang lebih singkat bagi orang Portugis ke Maluku tidak melalui pantai Jawa,melainkan melalui Singapura ke Borneo, ke Pulau Butun (Buton) lalu ke Maluku.  Jalur ke kepualauan Maluku itu dikenal sebagai jalur yang paling baik dan cocok (Cortesao,1944:220). Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Sejarah, serba-serbi | 3 Comments »

Revitalisasi Negara

Posted by orangbuton pada 19 Oktober 2011

Eko Prasojo

Membaca tulisan dan kritik berbagai kalangan akhir-akhir ini seakan merasakan kuatnya dorongan perubahan menyeluruh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pemerintah mengklaim bahwa pertumbuhan ekonomi mencapai 6 persen, sedangkan sejumlah kalangan berpendapat bahwa perkembangan sektor riil semakin jauh dari harapan masyarakat. Pada sisi lain, keadaan politik semakin tidak menentu, oportunisme di kalangan politisi semakin tinggi dengan fenomena perpindahan partai, kinerja dewan, baik di pusat maupun di daerah, dikritisi tidak optimal. Sedangkan korupsi hampir dapat dipastikan semakin terinternalisasi menjadi budaya yang kokoh, baik di birokrasi, politik, maupun peradilan. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Pemerintahan | 1 Comment »

Uniknya Mata Uang Buton Kampua

Posted by orangbuton pada 4 Januari 2011

Uang yang sangat unik,yang dinamakan Kampua dengan bahan kain tenun ini merupakan satu2nya yang pernah beredar di Indonesia.Menurut cerita rakyat Buton,Kampua pertamakali diperkenalkan oleh Bulawambona,yaitu Ratu kerajaan Buton yang kedua,yang memerintaha sekitar abad XIV. Setelah ratu meninggal,lalu diadakan suatu “pasar” sebagai tanda peringatan atas jasa-jasanya bagi kerajaan Buton. Pada pasar tersebut orang yang berjualan engambil tempat dengan mengelilingi makam Ratu Bulawambona. Setelah selesai berjualan,para pedagang memberikan suatu upetiyang ditaruh diatas makam tersebut,yang nantinya akan masuk ke kas kerajaan. Cara berjualan ini akhirnya menjadi suatu tradisi bagi masyarakat Buton,bahkan sampai dengan tahun 1940. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam serba-serbi, Uncategorized | 4 Comments »

Good Governance dan Kinerja Organisasi Publik

Posted by orangbuton pada 11 Desember 2010

Undang-undang Nomor 22 dan 25 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Keuangan Daerah yang selanjutnya diubah oleh Undang-undang nomor 32 dan 33 tahun 2004, telah mengantarkan Indonesia memasuki proses pemerintahan desentralisasi setelah lebih dari 30 tahun berada di bawah rezim orde baru yang serba sentralistis. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

BEBARAPA KARYA SULTAN DAYANU IKHSANUDDIN

Posted by orangbuton pada 2 November 2010

  • Dibidang politik, ditunjukkan melalui pemberlakuan UUD Kesultanan Buton yang disebut Martabat Tujuh.
  • Dibidang pendidikan, ditunjukkan melalui pembukaan sejumlah zaawiah (pesantren).
  • Dibidang ekonomi, ditunjukkan melalui makin kuatnya kedudukan kampua sebagai mata uang kesultanan yang menjadi alat tukar resmi diseluruh wilayah kesultanan, termasuk menjadi alat tukar resmi dalam interaksi perniagaan Buton dengan bangsa-bangsa Eropa. Pada masa pemerintahan Sultan Dayanu Ikhsanuddin ini kegiatan  perdagangan di Kesultanan Buton mengalami masa kemajuan pesat. Para pedagang dari negeri lain, termasuk pedagang-pedagang Cina dan Portugis berkunjung dan berdagang di Kesultanan Buton. Mengingat semua transaksi di wilayah Kesultanan Buton harus menggunakan uang kampua, maka sebelumnya para pedagang harus menukarkan uang-uang mereka dengan uang kampua. Penukaran dilakukan pada tempat penukaran uang yang banyak terdapat di pelabuhan ataupun di lokasi-lokasi perdagangan. Setelah selesai berdagang, mereka boleh menukarkan sisa uang kampua yang dimilikinya dengan mata uang yang diinginkan. Namun tidak jarang terjadi ada kalangan pedagang yang tidak lagi menukarnya, tetapi membawah kampua sebagai kenang-kenangan dari Kesultanan Buton.
  • Dibidang keamanan, ikut dalam perampungan pembangunan Benteng Keraton Wolio.
  • Dibidang hubungan luar negeri, ditunjukkan dengan dimulainya interaksi dengan bangsa-bangsa Eropa, khususnya Belanda. Dalam periode pemerintahan Sultan ke empat Dayanu Ikhsanuddin ditanda tangani perjanjian kerjasama Buton – Belanda (VOC) tahun 1613.

 

 

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.