Orang Buton Punya

Komentar Para Pembaca Akan Sangat Membantu Dalam Memperkaya Khasanah Blog Ini

Menghidupkan Kembali Roh Masjid Keraton Buton

Posted by orangbuton pada 28 Juli 2008

Gaya arsitektur bangunan Masjid Agung Keraton Buton di Bau-Bau sangat sederhana. Bangunan masjid berbentuk persegi empat yang mengerucut, terdiri dari dua lantai. Lantai satu yang lebih luas sebagai ruang shalat, sementara lantai dua yang lebih kecil berfungsi sebagai tempat mengumandangkan azan.

Di atas bangunan lantai dua itu duduk bangunan empat persegi yang lebih kecil dan merupakan puncak kerucut dari keseluruhan bangunan Masjid Agung. Puncak kerucut itu adalah kubah bagi umumnya model masjid di Tanai Air.

Bangunan masjid itu ditutup atap seng yang diberi cat hijau beberapa tahun silam. Menurut catatan, atap seng itu sudah diganti dua kali, tahun 1929 dan tahun 1978. Sebelumnya, atap masjid tua itu selalu daun nipah.

Struktur bangunan masjid yang belum pernah diganti sejak didirikan tahun 1712 di zaman kekuasaan Sultan Buton ke-19 Langkariyriy yang bergelar Zaikuddin Darul Alam adalah fondasi dan bangunan dinding yang bahannya menggunakan batuan kapur dengan spesimen pasir dan kapur. Ukuran masjid juga masih tetap seperti aslinya, 20,6 meter x 19,4 meter.

Bahan bangunan itu pula yang digunakan dalam pembuatan benteng keraton yang menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Buton, sebuah model pemerintahan bercorak Islam di antara beberapa kerajaan kecil di Asia Tenggara yang berkiblat ke Istanbul, Turki. Usia benteng itu lebih tua dibandingkan masjid. Benteng dengan panjang keliling tiga kilometer itu tingginya rata-rata empat meter dan tebal dua meter, selesai dibangun sekitar tahun 1645.

Masjid Agung Keraton Buton tidak memiliki menara. Tetapi, di sisi bangunan sebelah utara berdiri sebuah tiang bendera yang ujungnya lebih tinggi dibandingkan puncak kerucut masjid. Menurut Buya Hamka dalam buku tafsirnya, Al Azhar, tiang bendera itu juga berfungsi sebagai tempat pelaksanaan hukuman gantung berdasarkan syariat Islam.

Di balik kesederhanaannya, Masjid Keraton Buton saat ini tampak lebih rapi dan bersih. Bahkan, lantainya terkesan mewah karena sejak tiga tahun ini berlapis marmer.

Renovasi lantai masjid dengan menggunakan marmer merupakan bantuan Presiden (saat itu) Megawati Soekarnoputri, ungkap Asili (64), salah seorang jemaah masjid keraton. Menurut warga keraton itu, Megawati menyempatkan diri meninjau Keraton Buton termasuk masjid tua itu—saat melakukan kunjungan historis ke Buton menjelang Pemilu 1999. Buton dikenal sebagai basis Partai Nasional Indonesia (PNI) di zaman Bung Karno. Salah seorang kader PNI pernah menjabat Bupati Buton di era 1960-an.

Alhamdulillah, lanjut pensiunan polisi itu, setelah terpilih menjadi presiden, Megawati tidak lupa komitmennya untuk melestarikan peninggalan Kerajaan Islam Buton. Pelaksanaan renovasi masjid itu ditangani Gubernur Sultra Laode Kaimuddin dan Ketua PDI-P Sultra Laode Rifai Pedansa.

Masih ada janji yang belum dipenuhi sampai Ibu Mega lengser, cetus Asili yang dibenarkan Halifu (68), tungguna ganda (tukang pukul beduk sebagai tanda waktu shalat) Masjid Agung Keraton Buton. Menurut Asili, putri proklamator itu berjanji akan datang lagi ke Buton lagi bersama abangnya, Guntur.

Masjid Agung itu memiliki 12 pintu, semuanya harus dilalui dengan menaiki tangga beton karena lokasi masjid berada di atas sebuah bukit kecil. Tangga untuk masuk melalui pintu utama lebih lebar dan beratap. Di kiri kanan pintu utama terdapat selasar, tempat berkumpul aparat dan pejabat sarana agama (lembaga keagamaan) membahas berbagai hal terkait pelaksanaan syariat, dan tempat berbuka puasa di bulan Ramadhan.

Di depan pintu utama di antara dua selasar tadi terdapat sebuah guci bergaris tengah 50 sentimeter dengan tinggi 60 sentimeter. Guci itu terhunjam ke lantai semen berlapis marmer. Guci tersebut telah ditempatkan di situ sejak adanya masjid ini sebagai penampungan air untuk berwudu, tutur Muhaba (63), yang juga seorang tungguna ganda.

Jemaah atau pengunjung masjid keraton di abad ini tentu saja tidak lagi harus menggunakan air tempayan tua itu. Namun, guci itu masih terus diisi bila airnya habis atau tinggal sedikit. Air guci itu dianggap berkhasiat sehingga sering diambil untuk menjadi penawar penyakit, tutur Muhaba.

Menurut pensiunan guru sekolah dasar tersebut, mereka yang percaya air guci itu berkhasiat bukan hanya orang Buton, tetapi juga yang datang dari Makassar dan Jakarta. Biasanya mereka membawa botol air mineral yang isinya diganti dengan air guci Masjid Agung Keraton Buton.

Cagar budaya

Masjid Agung Keraton Buton merupakan bukti otentik betapa kuatnya pengaruh Islam terhadap Kerajaan Buton yang secara literatur kemudian disebut Kesultanan Buton.

Dalam struktur pemerintahan kesultanan, pengelolaan Masjid Agung ditangani langsung oleh lakina agama, semacam menteri agama dalam sistem pemerintahan modern. Perangkat masjid lainnya adalah imam, khatib, moji (muazin), dan mukimi (jemaah tetap).

Ada yang unik dalam struktur perangkat Masjid Agung Keraton Buton. Total perangkat itu berjumlah 60 orang, terdiri dari lakina agama, imam, empat khatib, 12 moji, dan 40 mukimi. Khatib dan moji melakukan tugasnya secara bergilir. Perangkat semacam itu tak dimiliki masjid lain di Nusantara.

Semua perangkat itu harus hadir pada acara-acara keagamaan, lebih-lebih upacara yang bersifat ritual wajib seperti shalat Jumat, shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Mereka memakai jubah dan sorban dari kain Buton dengan motif dan warna berbeda, sesuai fungsi dan peran masing-masing. Mukimi, misalnya, memakai jubah berwarna putih.

Selain berkhotbah secara bergilir pada setiap shalat Jumat, para khatib yang berjumlah empat orang itu memiliki tugas tambahan, yakni secara kebatinan mengawal wilayah kerajaan dari empat sisi dari segala ancaman, seperti serangan musuh dan wabah penyakit.

Para moji juga mempunyai peran ganda. Selain mampu mengumandangkan azan dengan alunan suara yang bagus, ada juga yang berperan sebagai tungguna naaba (tempat bertanya tentang berbagai hal), tungguna bula (tempat bertanya tentang kapan permulaan Ramadhan dan hari-hari keagamaan lainnya). Sayang sekali sebagian perangkat Masjid Agung Keraton Buton kini tidak difungsikan atau dihidupkan lagi.

Di kalangan pemangku adat di lingkungan Keraton Buton sebetulnya ada keinginan untuk menghidupkan kembali perangkat Masjid Agung seperti di zaman kesultanan. Kami sudah mulai menghidupkan mukimi, tapi baru empat orang, tutur Hasinu Daa, pemangku adat yang juga mantan tungguna naaba.

Kendala yang dihadapi adalah masalah biaya. Sebab, perangkat itu harus dilengkapi dengan pakaian adat. Selain itu, mereka juga butuh biaya hidup. Dengan kata lain, perangkat masjid keraton tersebut seyogianya mendapat jaminan sosial dari pemerintah, dalam bentuk honor tetap misalnya.

Yamin Indas

13 Tanggapan to “Menghidupkan Kembali Roh Masjid Keraton Buton”

  1. laode zulkifli said

    kenapa ga diterangkan asal mula keturunan la ode

  2. Juneid said

    Saya mau tanya kpd yg mengerti soal ini, saya pernah memakai jubah putih utk shalat jum’at namun saya dengar secara tdk langsung mengatakan bahwa, hal itu tdk layak saya pakai (= ndaa laenga )karna yg layak adalah perangkat masjid itu sendiri, apakah pendapat ini benar adanya

  3. muhammad husein said

    Menurut saya pak juneid layak memakai jubah apa saja, dan komentar “ndaa laenga” itu mngkin keluar dari cetusan org yg tdk paham agama islam. Belum tentu orang yg tua lebih tahu dari yg muda atau sebaliknya.
    Agama islam bukan agama yg kaku dan saya yakin 100 %, masjid agung keraton buton 100% menjunjung agama tinggi agama islam, seperti ajaran leluhur kita.

    Note : baca “Martabat Tujuh”, bagus untuk dipahami

  4. Junaid said

    Trima kasih atas jawaban Saudara Muhammad Husein,smoga dgn ini dapat bermanfaat baik pribadi maupun pada yg sempat membaca dialog ini, Mengenai Martabat Tujuh, apakah yg di maksud adalah Martabat Tujuh dari Kajian Tasawwuf Falsafi atau Undang-undang Pemerintahan Kesultanan Buton. Di samping itu ada baiknya alamat Saudara Muhammad Husein ini diketahui,untuk diskusi atau meminjam buku yg di maksud. Wassalam.

  5. imran kudus said

    sy ingim berkomentar sm saudara juneid, memakai pakayan apa saja itu tdk ada yg larang persoalan laenga atau yinda laenga adalah persoalan yang lain. perangkat masjiid di keraton menggunakan jubah & sorban karna rasulullah selalu menggunakan pakayan spt itu karna itu bagian dr sunnah. tapi masyarakat umum tidak menggunakan pakaian sprti itu, jd hnya persoalan budaya

  6. Fadhel abdul anis said

    memakai jubah itu suatu syarat tidak sembarang org dapat memakaix dan harus sesuai dgn pangkat dan keturunanx di keraton buton

  7. Junaid said

    Mohon maaf pak Fadhel,penjelasan Pak Muhammad Husein dan Pak Imran adalah yg masuk di rasioku skrg.

  8. Junaid said

    Mohon maaf pak Fadhel,penjelasan Pak Muhammad Husein dan Pak Imran Kudus adalah yg masuk di rasioku skrg.

  9. sy cm memberi masukkn……sy keturunan dr kesultanan buton…

  10. 10.Salam saudaraq yg seiman”Pakean putih Hanyalah simbolish lahiriah& bawsanx secara bathin kita harus senatiasa dalam keadaan suci “Sejarah buton penuh rahasia & perlu menkajinx tdk hanya dgn pikiran tp dgn rasa>>>sejarah buton malah aq mendapti diperantauankq dgn orng yg pernah dbuton/keturunn yg tersebar didalam & diluar negri,..subhanallah negri buton penuh dgn rahasia..Mudahn dikemudian hari negriku akan jaya dgn mendaptkan pemimpin yg jujur,Amanah dan mengayomi masyarakt secara keseluruhan.

  11. ayah saya selalu menceritakan kebaikan2 dan martabat 7 yg saya kadang merasa sangat berdosa seringnya saya menganggap itu hanya cerita dongeng ayah kpd anaknya sampai..kemudian saya mengunjungi buton 1994..terharu dan takjub cerita2..itu terasa begitu samar dan saya rindu sekali..sekarang..di era bung karno pernah menjabat bupati adalah ayah saya La Ode muhamad sahihu..kakek saya La Ode Asimoe..

  12. Mohon maaf pd era bung karno ayah saya adalah camat buton..bukan bupati..tp era orde baru pindah ke jakarta..dan menjadi kep sek.di jkrt..waktu itu bapak gubernur jakarta Ali sadikin almarhum.

  13. wahyu said

    mau tanya ttg masjid keraton buton, kbetulan jdul saya tentang koeksistensi nilai-nilai religi masjid keraton buton dgn masjid2 saat ini di kota bau2 . ada yg tw nda ??? mohon bantuannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: