Orang Buton Punya

Komentar Para Pembaca Akan Sangat Membantu Dalam Memperkaya Khasanah Blog Ini

Eksotisme Buton

Posted by orangbuton pada 1 Agustus 2008

PULAU Buton tak hanya menyajikan keindahan alam, tempat bersejarah dapat dikunjungi wisatawan untuk menambah wawasan tentang kejayaan Kesultanan Buton di masa lalu. Liburan kali ini saya mengunjungi suatu kota di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara.

Kota bernamakan Bau-Bau. Dari Jakarta, Kota Bau-Bau dapat ditempuh dengan dua cara. Pertama, menggunakan jasa transportasi udara. Kedua, ditempuh melalui jasa angkutan laut. Bila Anda menggunakan pesawat terbang, transit di Makassar. Dari Jakarta pesawat akan terbang selama 2,5 jam menuju Makassar. Dari Makassar, para penumpang tujuan Bau-Bau harus ganti pesawat lebih kecil yakni pesawat Merpati, yang merupakan satu-satunya armada penerbangan yang melayani rute ke Bau-Bau.

Namun, bila Anda memilih menggunakan kapal laut, kapal Pelni dapat berlayar langsung menuju Bau-Bau, biaya pun lebih terjangkau dibandingkan dengan menggunakan pesawat terbang. Waktu tempuh selama 4 hari 3 malam dengan 2 kali transit di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dan Pelabuhan Makassar, menjanjikan sebuah pengalaman baru perjalanan di laut.

Perjalanan semacam itu akan lebih seru bila dilakukan bersama rombongan. Berkunjung ke Bau-Bau, Anda tak perlu bingung mencari penginapan. Di kota tersebut banyak hotel atau losmen yang seusai anggaran Anda. Transportasi lokal pun tak perlu dikhawatirkan, jarak dari penginapan ke tempat wisata tidaklah jauh, rata-rata ada di dalam kota.

Keraton Buton

Perjalanan pertama, saya lakukan untuk melihat-lihat Kota Bau-Bau secara menyeluruh dari atas Benteng Keraton Buton. Dari ketinggian, kita dapat melihat hampir semua rumah di pulau tersebut. Benteng berukuran keliling sekira 2.700 meter dengan tinggi 2-3 meter dan ketebalan dinding hingga 2 meter itu memiliki 12 pintu (lawa). Masing-masing diberi nama sesuai dengan nama atau gelar pengawas pintu-pintu tersebut yang berfungsi sebagai penghubung keraton dengan kampung-kampung di sekitarnya. Ada cerita menarik tentang sejarah pembangunan tempat ini.

Konon, tumpukan batu tersebut direkatkan dengan menggunakan putih telur. Dari penginapan, saya memilih berjalan kaki menuju benteng tersebut sambil melihat-lihat pemandangan di sekitarnya. Tangga demi tangga pun saya lalui, cukup tinggi memang. Diperlukan tenaga besar bagi para pejalan kaki. Namun, Anda yang tidak mampu melalui cara saya, bisa menggunakan transportasi pribadi atau umum. Memasuki lingkungan benteng tersebut, muncul kekagetan di benak saya. Betapa tidak, seperti melakukan perjalanan di lorong waktu, saya terlempar ke masa lampau.

Rumah-rumah di dalamnya betul-betul dipertahankan dalam bentuk rumah asli Buton. Rumah panggung yang sebagian besar berbahan kayu. Orang-orang yang tinggal di dalamnya adalah mereka yang masih bertalian darah dekat dengan para petinggi kesultanan. Selain bangunan benteng, terdapat beberapa bangunan yang memiliki nilai sejarah tinggi, seperti Masjid Agung Keraton dan Makam Sultan Murhum (Sultan Pertama Buton).

Di samping Masjid Agung yang konon didirikan di atas bongkahan batu yang sangat besar, terdapat tiang bendera yang berumur ratusan tahun. Di samping makam Sultan Murhum terdapat sebuah batu yang dapat mengeluarkan air sewaktu-waktu. Air tersebut dipakai ketika memandikan seorang anak perempuan dalam proses pingitan. Di beberapa tempat juga terdapat beberapa gua persembunyian. Di luar benteng, terdapat museum yang menyimpan benda-benda peninggalan kesultanan. Sungguh perjalanan wisata yang bersuasana mistis dan membuat saya takjub.

Di tengah perjalanan yang meletihkan, saya menyempatkan diri menyantap es kelapa muda sambil beristirahat di sebelah timur benteng. Di sana terdapat payung-payung tempat beristirahat menghadap ke arah jurang. Di bawah tampak mengalir sungai berkelok-kelok. Begitu jelas dan indah pemandangan sore itu. Dari sebelah barat benteng, kita dapat melihat matahari yang akan tenggelam ke peraduannya. Lengkap sudah perjalananku hari itu, diakhiri dengan menyaksikan matahari terbenam.

sumber: okezone

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: