Orang Buton Punya

Komentar Para Pembaca Akan Sangat Membantu Dalam Memperkaya Khasanah Blog Ini

Tak Ada Lagi Mutiara di Pulau Makassar

Posted by orangbuton pada 1 Agustus 2008

DARI Bau-Bau ke Makassar hanya sekitar 15 menit. Jangan salah sangka. Makassar yang ini bukan kota dagang terbesar di kawasan timur Indonesia, melainkan sebuah pulau kecil di depan Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara (Sultra). Pemberian nama Makassar terhadap pulau nelayan seluas 1,04 kilometer persegi itu terkait dengan sejarah Kerajaan Buton.

Dalam sejarah Kerajaan Buton yang ditulis A Ligtvoet tahun 1887 disebutkan, pada tahun 1666 Gowa mengirim armada berkekuatan 20.000 personel untuk menghajar Buton karena melindungi Aru Palakka yang memberontak terhadap kekuasaan Raja Gowa. Aru Palakka yang menyelamatkan diri ke Buton tahun 1660 diterima baik oleh Sultan Buton. Kehadiran putra bangsawan Bone itu kemudian melahirkan perjanjian kerja sama antara Buton dan Bone yang intinya diikrarkan bahwa Buton adalah Bone Timur dan Bone adalah Buton Barat.

Di lain pihak, pada akhir tahun 1666 itu Batavia mengirim pasukan ke Makassar, dan pasukan ini selanjutnya bergerak ke Buton yang ternyata sedang digempur oleh pasukan pimpinan Karaeng Bonto Marannu dari Gowa tadi. Pasukan kompeni yang dipimpin Admiral Cornelis Speelman terdiri dari 500 orang Belanda dan 300 bumiputra, di antaranya termasuk Aru Palakka.

Tentu saja karena serangan dan strategi militer pihak kompeni lebih baik dan didukung persenjataan yang lebih modern, pasukan Bonto Marannu terdesak. Bahkan, sekitar 5.500 orang di antaranya ditawan di sebuah pulau kecil di perairan Teluk Bau-Bau. Pulau itu oleh orang Buton disebut Liwuto. Tawanan perang tadi kemudian dilepas oleh Sultan Buton setelah pasukan Belanda meninggalkan Buton dan pergi ke Ternate. Menurut Ligtvoet, pelepasan itu dilakukan setelah pimpinan pasukan Gowa membayar tebusan.

Setelah peristiwa itu, Liwuto lebih populer disebut Pulau Makassar, kemudian menjadi nama resmi dalam administrasi pemerintahan. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, penduduk setempat masih tetap menyebutnya Liwuto, yang juga berarti pulau. Bahkan, Liwuto telah diabadikan menjadi nama salah satu dari dua kelurahan di Pulau Makassar. Penduduk pulau itu adalah etnis Buton.

PULAU Makassar sampai pertengahan tahun 2002 berpenduduk 928 kepala keluarga (KK) atau 4.398 jiwa. Terdiri dari dua kelurahan, Liwuto dan Sukaneyo. Pulau Makassar merupakan bagian dari wilayah Kota Bau-Bau. Penduduk yang berdiam di Kelurahan Liwuto 482 keluarga (2.317 jiwa) dan Kelurahan Sukanaeyo 446 keluarga (2.081 jiwa). Sekitar 90 persen penduduk pulau itu hidup sebagai nelayan tradisional.

Alat tangkap yang digunakan antara lain jaring, bubu, dan pancing. Selain di perairan sekitar pulau, nelayan Pulau Makassar juga menangkap ikan tenggiri dan cumi-cumi di perairan Pulau Kabaena, Kabupaten Buton. Bahkan, sebagian nelayan pulau itu harus berimigrasi ke Kota Kendari untuk mencari peluang baru di sana.

Kelompok nelayan asal Pulau Makassar di Kendari menetap di Kelurahan Bungku Toko. Perkampungan kelompok nelayan itu terletak di daratan Pulau Bungku Toko di sebelah kiri ambang masuk Teluk Kendari. “Mereka sudah mendapatkan bantuan alat tangkap dari pemerintah setempat”, tutur Lurah Liwuto Jufri.

Nelayan Pulau Makassar termasuk pekerja rajin dan ulet. Bila tidak melaut, pada siang hari mereka menggeluti pertukangan kayu. Berbagai produk dihasilkan pulau itu, mulai dari bahan rumah seperti daun pintu, kusen, lemari, ranjang, hingga perabotan kantor. Bahan baku yang digunakan semuanya kayu jati.

Bahan baku itu tentu saja didatangkan dari luar, yakni Pulau Muna. Sebab, pulau kecil itu nyaris tak memiliki hutan. Tetapi, orang Bau-Bau sering juga menjuluki Pulau Makassar sebagai pulau jati hanya karena menghasilkan kerajinan dari kayu jati.

Produk kerajinan kayu jati Pulau Makassar dikenal baik kualitasnya. Sebab, para perajin yang juga nelayan itu memiliki keterampilan yang telah diwarisi turun-temurun. “Banyak warga Kota Bau-Bau membangun rumah di Surabaya dengan menggunakan hasil kerajinan kami”, tutur Manan (52), salah seorang ketua kelompok usaha kerajinan kayu. Di pulau itu terdapat kurang lebih 20 kelompok perajin kayu.

Nelayan Pulau Makassar juga dikenal sebagai penghasil agar-agar. Kegiatan budidaya rumput laut itu dilakukan pada musim angin timur. Pada musim kemarau perairan sekitar pulau terlindung dari terpaan ombak. Ketergantungan pada iklim itu menyebabkan panen hanya dilakukan sekali dalam setahun.

Berbeda dengan hasil kerajinan kayu, produksi rumput laut sering membuat nelayan terpukul karena harga dimainkan oleh pedagang antarpulau di Bau-Bau. Seperti dituturkan Jufri, pada permulaan panen harga masih bagus. Namun, begitu produksi melimpah pada saat memasuki puncak musim panen, harga rumput laut di kota itu biasanya merosot tajam. Pada musim panen terakhir bulan Oktober-November 2002, harga rumput laut di Bau-Bau tercatat Rp 3.000 per kilogram (kg). Padahal, pada awal panen pernah mencapai Rp 6.000 per kg.

LAJU perkembangan Kota Bau-Bau yang cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir ini justru menimbulkan dampak kurang menguntungkan bagi kelestarian lingkungan di Pulau Makassar. Perairan di sekitar pulau itu, dan Teluk Bau-Bau pada umumnya, sudah tercemar oleh polusi yang bersumber dari limbah dan asap perahu bermotor maupun limbah industri dan rumah tangga di Kota Bau-Bau.

Akibat gejala pencemaran itu, budidaya mutiara di Pulau Makassar yang dikelola sebuah perusahaan penanaman modal asing (PMA) tidak produktif lagi. “Budidaya mutiara sangat peka terhadap pencemaran”, ujar Basri (36) dari PT Tiara Indopearl Pulau Makassar.

Perusahaan yang beroperasi sejak tahun 1988 itu terpaksa hengkang dari Pulau Makassar, dan selanjutnya membuka proyek baru di Labuan Bajo, Flores Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Sekitar 40 persen dari 157 orang karyawan menurut rencana akan dibawa ke NTT, namun mereka keberatan meninggalkan kampung halamannya di Pulau Makassar dan daerah lainnya di Buton.

Oleh karena itu, mereka terpaksa dikenakan pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan kompensasi yang memadai. Alman (35), karyawan yang telah bekerja selama 11 tahun di PT Tiara Pearl mendapat pesangon Rp 4,3 juta. Uang itu oleh Alman yang drop out Sekolah Teknik Menengah (STM) Bau-Bau dibelikan perahu bermotor yang dioperasikan sebagai ojek laut pada trayek Liwuto – Bau-Bau. “Di antara kami ada yang membeli ojek laut, dan ada pula yang membeli ojek darat”, papar warga Kelurahan Liwuto beranak satu tersebut. Karyawan yang tinggal di Kota Bau-Bau sudah barang tentu membeli sepeda motor untuk dioperasikan sebagai ojek.

Saat ini, karyawan yang masih aktif sisa 13 orang. PHK terhadap karyawan perusahaan itu dilakukan secara bertahap sejak hampir dua tahun terakhir ini, setelah produksi mutiara makin menurun. Pada awalnya, setiap kali panen usaha budidaya di Pulau Makassar menghasilkan enam kg mutiara kelas satu. Dalam setahun berlangsung empat kali panen, atau total produksi rata-rata 24 kg per tahun.

Belakangan, produksi itu merosot sampai 50 persen. Panen terakhir yang dilakukan Januari 2003 hanya menghasilkan tiga kg mutiara. Harga juga cenderung menurun, kendati harga mutiara tetap jauh di atas harga emas yang berkisar di bawah 10 dollar AS per gram. Jika pada masa-masa puncak produksi harga mutiara mencapai rata-rata 40 dollar AS per gram.

BAGI penduduk Pulau Makassar, kepergian perusahaan Jepang itu berarti suatu kehilangan besar. Selain menampung karyawan yang sebagian besar penduduk setempat, PT Tiara Indopearl juga memiliki kepedulian terhadap kehidupan penduduk sekitarnya. Sekolah dan rumah-rumah ibadah di pulau itu banyak mendapat kucuran bantuan dana dari perusahaan tersebut.

Banyak potensi alam Pulau Makassar yang terganggu akibat terjadinya proses pencemaran di perairan Teluk Bau-Bau. Penyu yang sejak dulu menjadi salah satu sumber ekonomi penduduk setempat, belakangan ini makin langka di perairan pulau itu.

Komoditas lainnya seperti teripang juga cenderung makin berkurang populasinya di perairan Pulau Makassar. Padahal menurut Lurah Liwuto Jufri, teripang di perairan itu termasuk jenis yang mahal harganya. Penduduk setempat menyebutnya teripang bola-bola hitam. Harga teripang jenis ini mencapai Rp 110.000 per kg. Ada juga jenis bola-bola merah, namun lebih murah, hanya Rp 8.000 per kg.

Kelompok nelayan yang secara spesialis berburu teripang di perairan Pulau Makassar, pada bulan puasa lalu berhasil panen sekitar 300 kg teripang bola-bola hitam. Kelompok itu sempat menyumbang untuk kas kelurahan sebesar Rp 10 juta. “Jangan-jangan itu panen terakhir bagi kami”, ujar seorang anggota kelompok melukiskan kekhawatirannya terhadap gangguan kelestarian lingkungan di sana.

Selain limbah minyak dan asap perahu motor sebagai alat angkutan pokok antarkelurahan yang terletak di pinggir pantai Teluk Bau-Bau, termasuk Pulau Makassar, limbah industri dan rumah tangga juga besar kontribusinya bagi pencemaran laut di daerah itu.

Sudarman (42), karyawan PT Tiara Indopearl mencurigai erosi lumpur dari Desa Karing-karing mengandung sisa pestisida sebagai sumber pencemaran berat di perairan Pulau Makassar. Desa yang terletak di hulu beberapa anak kali yang bermuara ke Teluk Bau-Bau itu merupakan daerah persawahan dengan sistem irigasi.

KENDATI secara administratif Pulau Makassar merupakan wilayah Kota Bau-Bau, nuansa desa di pulau itu masih kuat. Keheningan tanpa hiruk-pikuk kendaraan bermotor menjadi suasana yang amat dominan.

Di pulau itu saat ini cuma ada tiga sepeda motor. Itu juga jarang dipakai, kecuali dibawa ke kota oleh pemiliknya untuk memperlancar urusan. Pergi ke kota (Bau-Bau) warga naik ojek laut (perahu bermotor) dengan tarif Rp 1.000 per penumpang. Jarak Pulau Makassar dengan Bau-Bau hanya satu mil lebih sedikit.

Di daratan Pulau Makassar belum ada jalan raya, kecuali garis-garis jalan setapak yang membelah blok-blok perkampungan penduduk. Sebagian jalan setapak itu telah dikeraskan dengan semen melalui proyek pengembangan kecamatan, dan sebagian lagi masih jalan tanah.

Secara sepintas lalu terkesan bahwa nelayan di pulau itu tidak terlampau miskin, juga tidak kaya. Lebih separuh perumahan mereka dibangun permanen. Anak-anak mereka juga banyak yang bersekolah sampai perguruan tinggi. Manan, nelayan merangkap tukang kayu baru menamatkan seorang putranya menjadi sarjana di Universitas Haluoleo Kendari. “Anak itu masih menganggur. Sedangkan adiknya tamatan SLTA Bau-Bau saya pekerjakan di pertukangan ini”, tuturnya.

Sarana pendidikan di Pulau Makassar terbilang cukup. Di sana terdapat dua taman kanak-kanak (TK), tiga sekolah dasar (SD), dan satu sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP). Anak-anak yang melanjutkan ke sekolah menengah umum (SMU) dan perguruan tinggi harus ke Bau-Bau pulang pergi. Hanya SD di Kelurahan Sukaneyo yang agak kewalahan menampung murid. Daya tampung SD yang hanya tujuh bilik itu perlu ditambah minimal empat bilik sehingga tidak ada rombongan belajar sore. “Sebagian anak-anak selama ini terpaksa belajar sore secara bergilir”, tutur Lurah Sukanaeyo Syaifuddin.

Kesenyapan di pulau itu akan semakin memagut bila mesin diesel listrik Perusahaan Listrik Negara (PLN) di Liwuto tidak bekerja alias macet. Kata Jufri, mesin itu lebih banyak macetnya sehingga malam di Pulau Makassar seolah lebih panjang karena kegelapan.

Pihak PLN Bau-Bau, menurut Lurah Liwuto itu, sudah menyanggupi untuk menyambung kabel langsung dari mesin PLN Bau-Bau ke Pulau Makassar melalui Desa Lowu-lowu, masih di Kota Bau-Bau. Pantai Lowu-lowu dengan pulau itu berjarak hanya 700 meter. Penduduk di dua kelurahan di pulau itu juga sudah sepakat menyediakan pondasi beton secara swadaya untuk pijakan tiang-tiang jaringan kabel.

Bila listrik sudah menyala sepanjang hari, bukan tidak mungkin investor bisa masuk Pulau Makassar. Peluang yang ada antara lain industri pariwisata bidang perhotelan. Di sebuah tebing pulau itu sangat fantastis jika dibangun hotel berbintang. Dari tebing itu Kota Bau-Bau rasanya bisa digenggam. Bila impian itu menjadi kenyataan, maka mutiara dari Pulau Makassar yang hilang bakal kembali dalam bentuk lain. (YAMIN INDAS)

4 Tanggapan to “Tak Ada Lagi Mutiara di Pulau Makassar”

  1. anshar said

    siapa bilang buton lebih besar dari makassar.
    cerita mati!!!!!!!!!!
    buton itu hancur seandainya tidak ada belanda yang menyerang gowa dan menyelamatkan arung palakka (raja bugis).
    dari mana dapat cerita daeng??????????
    sulawesi tenggara tidak ada apa2nya seandainya tidak di bantu orang sulsel.
    orang sultra beljar di makassar daeng!!!!!!!!!!
    mahasiswa kendari pernah di parangi mahasiswa bone.!!!!!!
    ini bukan cerita…….
    makassar itu kota besar sejak dulu sampai sekarang.

  2. rupanya saudara anshar tidak berfikir secara intelektual, seharusnya saudara anshar ini malu sebagai orang makassar kalau bicara dng otot….BODOH n PICIK…di mana otak anshar!!!?…

  3. An2ar goblok! km itu anak kmrn sore km tau apa, km kmentar mu kyk anak tk sj jgn trllu provoksi the, bljr dl km br komentar ok.

  4. R. Salihi said

    Salam buat para pembaca dan komentator…….

    Saudara Anshar harus mengetahui dan mengamalkan PANCASILA.
    kita sebagai anak Indonesia, belajar sejarah adalah sebagai tolak ukur sejauh mana intisari dari peristiwa yang terjadi di masa lampa, dapat di realisasikan dalam kehidupan kita sekarang dan untuk generasi yang akan datang. Apa yang pendahulu kita perjuangkan telah kita nikmati di alam kemerdekaan.
    apa yang kita tanam sekarang akan dituai oleh generasi penerus keturunan kita. amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: