Orang Buton Punya

Komentar Para Pembaca Akan Sangat Membantu Dalam Memperkaya Khasanah Blog Ini

POSUO

Posted by orangbuton pada 26 September 2008

Posuo adalah tradisi upacara yang telah berkembang di di Buton sejak zaman Kesultanan. Upacara Posuo ini laksanakan sebagai penanda transisi bagi seorang wanita dari seorang dari gadis remaja (kabua-bua) menjadi seorang gadis dewasa (Kalambe).

Upacara posuo ini dilakukan selama delapan hari delapan malam dalam ruangan khusus yang disebut suo. Dalam suo ini dilakukan berbagai ritual sebagai sarana pendidikan bagi persiapan mental seorang gadis remaja untuk menjadi seorang perempuan dewasa yang siap untuk membentuk rumah tangga. Agar pelajaran yang dapat diterima dengan baik, maka selama dalam suo para peserta posuo hanya boleh bertemu dengan bhisa (dukun/ pemimpin upacara) serta dijauhkan dari segala pengaruh luar bai dari keluarganya sendiri maupun dari pengaruh lingkungannya. Dari para bhisa inilah para gadis peserta Posuo akan mendapat bimbingan moral, spiritual dan pengetahuan bagaiman membina keluarga yang baik.

Dalam ritual posuo ini ada tiga tahap prosesi yang harus dijalani. Sesi Pertama disebut pauncura atau pengukuhan. Pada tahap ini prosesi dilakukan oleh bhisa senior (parika) diawali dengan tunuana dupa (pembakaran kemenyan) yang disertai dengan pembacaan doa. Setelah doa selesai dilanjutkan dengan panimpa (pemberkatan) yang dilakukan dengan memberikan sapuan asap kemenyan kesekujur tubuh peserta posuo. Setelah itu parika mengumumkan nama-nama para peserta ritual dan pemberitahuan kepada seluruh para peserta dan keluarganya bahwa sejak saat itu para peserta akan diisolasi dari dunia luar dan hanya bisa berhubungan dengan para bhisa yang bertugas menemani.

Sesi Kedua disebut bhalyi yana yimpo atau merubah penampilan yang dilakukan setelah ritual berjalan selama lima hari. Pada tahap ini ritual yang dilakukan adalah merubah posisi tidur para peserta dari yang tadinya kepala di selatan dan kaki di utara menjadi kepala di barat dan kaki ditimur. Posisi tidur ini akan terus dilakoni ampai dengan dari ketujuh.

Sesi Ketiga disebut matana kariya atau puncak acara. Dilakukan tapat pada malam kedelapan. Ritual yang dilakukan adalah memandikan seluruh peserta upacara posuo dengan menggunakan wadah bhosu (buyung yang terbuat dari tanag liat). Setelah selesai mandi para peserta oleh para bhisa akan didandani dengan menggunakan pakaian ajo kalambe (dandanan gadis dewasa).

Sesuai kemampuan keluarga penyelenggara posua, setiap kegiatan ritul posuo makan diiringi dengan pemekulan gendang. Pemukulan gendang ini juga merupakan ujian bagi kesucian (keperwanan) para peserta posuo. Jika dalam pemukulan gendang tersebut ada gendang yang pecah, maka hal tersebut menjadi tanda bahwa diantara para peserta posuo tersebut ada yang sudah tidak perawan lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: