Orang Buton Punya

Komentar Para Pembaca Akan Sangat Membantu Dalam Memperkaya Khasanah Blog Ini

MAKNA SIMBOLIS PADA ISTANA MALIGE BUTON

Posted by orangbuton pada 23 Oktober 2009

Oleh,
La Ode Ali Ahmadi
(Staf Arkeologi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Tenggara)

Potensi Kebudayaan di Sulawesi Tenggara memang tiada duanya, namun pada kesempatan ini, opini yang bernuansa penelitian ini, hanya dibatasi pada makna simbolis Istana Malige di Buton.
Peninggalan dari Peradaban Buton masa lampau, sungguh memukau dan beraneka ragam. Tidak mengherankan jika banyak orang berkeinginan untuk mengenal Buton lebih dekat, baik secara harfiah, ilmu pengetahuan, pemerintahan, politik dll, hingga pada kebutuhan bathin seseorang yang dalam rangka proses kehidupannya, ingin mendalami dan mempelajari ilmu tauhid dan agama Islam tarekat yang terkenal itu…?. Dan sebaliknya banyak pula orang, kelompok, bangsa dan sindrom yang sengaja ingin menghancurkan serta memfitnah Buton sekaligus membunuh karakter manusianya…? Hem……
Daerah seribu pulau, seribu benteng dan istilah seribu lainnya, adalah julukan Pulau Buton yang secara geografis terletak pada garis lintang dari utara ke selatan antara 20⁰30’ – 125⁰ Bujur Timur, merupakan kawasan timur jazirah tenggara Pulau Celebes/Sulawesi.
Menurut referensi serta pengakuan sejarah dari berbagai sumber, Kerajaan/Kesultanan Buton merupakan wilayah otonom dan merupakan kawasan mandiri yang memiliki keistimewaan tersendiri. Karakter budaya dan pola pikir dari masyarakatnya yang cerdas, inovatif serta mampu bertahan adalah dasar mengapa mereka pandai berdiplomasi, berwatak keras, dan cerdik sehingga jangan diherankan apalagi sampai dipolemikkan bahwa; “Di masa lalu, Kerajaan/Kesultanan Buton, tidak pernah tunduk dan dikuasai, apalagi terjajah oleh bangsa manapun di dunia dan kerajaan lain di nusantara”. Jika dikatakan kerjasama/hegemoni dengan bangsa atau kerajaan lain, Buton melakukannya, karena memang tipe kerajaan ini terbuka pada siapapun dan kebersahajaannya yang selalu ingin bersahabat, menolong dan bermitra dalam berbagai bidang adalah keutamaan dan kewajiban kerajaan, demi menciptakan kesejahteraan dan keamanan masyarakatnya.
Ibarat prasasti dan goresan profil pada candi-candi di Jawa, yang mengkisahkan berbagai hal dan peristiwa, sesuai yang tertuang dalam babad tanah jawi, Buton pun memiliki kisah yang tak kalah menariknya. Eksistensi dari nilai-nilai serta kearifan budaya dan peradaban Buton masa lalu, masih dapat disaksikan pada persebaran lambang/simbol maupun rangkaian ragam hias di berbagai pelosok kadie/kerajaan-kerajaan kecil yang mengakui keberadaan Kerajaan/Kesultanan Buton. Wilayah 72 (tujuhpuluh dua) kadie terletak di seluruh kepulauan dan daratan Buton. Kini kadie menjadi referensi dan oleh parah ahli arkeologi; wilayah kadie dikategorikan sebagai situs pemukiman sekaligus sebagai bukti konkrit bahwa Buton masa lalu memang Raya dan Jaya.
Seluruh lambang atau simbol yang dimaksud, melekat cantik di berbagai benda/artefak peninggalan Kerajaan/Kesultanan Buton. Salah satu benda yang kaya akan makna simbolis baik konstruktif maupun dekoratif itu adalah Kamali/Istana Malige.
Kamali/Istana Malige (berarti pula Mahligai) adalah salah satu dari peninggalan arsitektur tradisional Buton, dapatlah dikatakan sebagai hasil dan kekayaan dari proses budaya (cultural process). Dalam hal ini Kamali/Istana Malige merupakan sebuah artefak yang keberadaannya dapat mengungkap berbagai sistem kehidupan masyarakat pendukungnya, baik itu mengenai sistim sosial maupun kepercayaan (religi) yang masih bertahan hingga sekarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, fungsi dan makna simbolis pada bangunan tersebut dipengaruhi oleh pemahaman masyarakat secara keseluruhan tentang konsep tasawuf, yang menganggap bahwa pemilik kamali/istana Malige, dalam hal ini Sultan adalah replikasi dari wajah Tuhan (Allah) yang wujudnya dianalogikan dalam bentuk arsitektur rumahnya (istananya) baik yang bersifat konstruksi maupun dekorasi. Bentuk lantai dan atapnya yang bersusun menunjukkan kebesaran dan keagungan Sultan. Bentuk tersebut juga menggambarkan fungsi Sultan sebagai pimpinan agama, pimpinan kesultanan serta pengayom dan pelindung rakyat. Hal ini senada dengan yang dikatakan oleh beberapa ahli tafsir/hadist yang mengarah pada sabda Nabi Muhammad, SAW yang termuat dalam tafsir Kanzil-Umal. Hadist ini mempertegas tentang fungsi dan tanggung jawab Sultan sebagai amiril mu’minin.
Istana Malige, kamali dan atau rumah masyarakat biasa di Buton pada dasarnya adalah sama sebab berasal dari satu konstruksi yang sama yang disebut banuwa tada. Di katakan istana/kamali jika bangunan tersebut di huni oleh pejabat kerajaan/kesultanan, dengan menambahkan tiang penyangga di setiap sisi bangunan, berfungsi konstruksi yang disebut kambero (kipas), lengkaplah di sebut kamali karena di sebut banua tada kambero, inilah yang membedakannya dengan rumah masyarakat biasa yang cukup disebut dengan banua tada.
Satu hal yang menarik pada rumah pejabat kerajaan/kesultanan dengan masyarakat biasa adalah peninggian lantai rumah yang berbeda-beda, peninggian lantai setiap ruangan ini merupakan pola awal konstruksi yang sudah menjadi aturan pokok jika ingin membangun sebuah rumah di Buton. Ruangan semakin kebelakang semakin tinggi sama dengan badan perahu antara haluan dan buritan atau posisi sujud dalam shalatnya seorang Islam. Sedangkan pembagiannya tergantung luas dan besar bangunan. Untuk fungsi dapur dan WC harus terpisah dengan induk bangunan, dan susunan lantainya lebih rendah dari lantai bangunan utama. Pada Kamali/Istana Malige bangunan untuk dapur dan WC di bangun terpisah dan hanya di hubungkan oleh satu tangga. Dapur dan WC secara simbolis adalah dunia luar yang keberadaannya jika dianalogikan pada tubuh manusia adalah pembuangan. Tampak bangunan terbagi 3 (tiga) sebagai ciri 3 (tiga) alam kosmologi yakni, alam atas (atap), alam tengah atau badan rumah dan alam bawah atau kaki/kolong. Masing-masing bagian tersebut dapat diselesaikan sendiri-sendiri tetapi satu sama lain dapat membentuk suatu struktur yang kompak dan kuat dimana keseluruhan elemennya saling kait-mengkait dan berdiri diatas tiang-tiang yang menumpu pada pondasi batu alam, dalam bahasa Buton di sebut Sandi.
Sandi tersebut tidak di tanam, hanya di letakkan begitu saja tanpa perekat. Sandi berfungsi meletakkan tiang bangunan, antara sandi dan tiang bangunan di antarai oleh satu atau dua papan alas yang ukurannya disesuaikan dengan diameter tiang dan sandi. Fungsinya untuk mengatur keseimbangan bangunan secara keseluruhan. Penggunaan batu alam tersebut bermakna simbol prasejarah dan pemisahan alam (alam dunia dan alam akherat)/ konsep dualisme, walaupun sebenarnya jika ditinjau dari fungsinya lebih bersifat profan.
Konstruksi lainnya adalah balok penghubung yang harus diketam halus adalah penggambaran budi pekerti orang beriman, sebagai analogi bagi penghuni istana.
Makna simbolis pada konstruksi Kamali/Istana Malige diantaranya adalah:

  1. Atap yang disusun sebagai analogi susunan atau letaknya posisi kedua tangan dalam shalat, tangan kanan berada di atas tangan kiri. Pada sisi kanan kiri atap terdapat kotak memanjang berfungsi bilik atau gudang. Bentuk kotak tersebut menunjukkan adanya tanggungjawab Sultan terhadap kemaslahatan rakyat.
  2. Balok penghubung yang harus diketam halus adalah penggambaran budi pekertinya orang beriman, sebagai analogi bagi penghuni istana,
  3. Tiang Istana di bagi menjadi 3 (tiga) yang pertama disebut Kabelai (tiang tengah), disimbolkan sebagai ke-Esa-an Tuhan yang pencerminannya diwujudkan dalam pribadi Sultan. Kabelai ditandai dengan adanya kain putih pada ujung bagian atas tiang. Penempatan kain putih harus melalui upacara adat (ritual) karena berfungsi sakral. Berikutnya adalah Tiang Utama sebagai tempat meletakkan tada (penyangga). Bentuk tada melambangkan stratifikasi sosial atau kedudukan pemilik rumah dalam Kerajaan/Kesultanan. Tiang lainnya adalah tiang pembantu, bermakna pelindung, gotong royong dan keterbukaan kepada rakyatnya. Ketiga tiang ini di analogikan pula sebagai simbol kamboru-mboru talu palena, yang maksudnya ditujukan kepada tiga keturunan (Kaomu/kaum) pewaris jabatan penting yakni Tanailandu, Tapi-Tapi dan Kumbewaha.
  4. Tangga dan Pintu mempunyai makna saling melengkapi. Tangga depan berkaitan dengan posisi pintu depan, sebagai arah hadap bangunan yang berorientasi timur-barat bermakna posisi manusia yang sedang shalat. Pemaknaan ini berkaitan dengan perwujudan Sultan sebagai pencerminan Tuhan yang harus di hormati, dan secara simbolis mengingatkan pada perjalanan manusia dari lahir, berkembang dan meninggal dunia. Berbeda dengan tangga dan pintu belakang yang menghadap utara disimbolkan sebagai penghargaan kepada arwah leluhur (nenek moyang/asal-usul).
  5. Lantai yang terbuat dari kayu jati melambangkan status sosial bahwa sultan adalah bangsawan dan melambangkan pribadi sultan yang selalu tenang dalam menghadapi persoalan.
  6. Dinding sebagai penutup atau batas visual maupun akuistis melambangkan kerahasian ibarat alam kehidupan dan alam kematian. Dinding dipasang rapat sebagai upaya untuk mengokohkan dan prinsip Islam pada diri Sultan sebagai khalifah.
  7. Jendela (bhalo-bhalo bamba) berfungsi sebagai tempat keluar masuknya udara. Pada bagian atasnya terdapat bentuk hiasan balok melintang member kesan adanya pengaruh Islam yang mendalam. Begitu pula pada bagian jendela lain yang menyerupai kubah. dll

Makna simbolis pada Dekorasi Kamali/Istana Malige terbagi dua yakni yang berbentuk hiasan flora dan fauna, diantaranya adalah:

  1. Nenas merupakan simbol kesejahteraan yang ditumbuhkan dari rakyat. Secara umum simbol ini menyiratkan bahwa masyarakat Buton agar mempunyai sifat seperti nenas, yang walaupun penuh duri dan berkulit tebal tetapi rasanya manis.
  2. Bosu-bosu adalah buah pohon Butun (baringtonia asiatica) mrupakan simbol keselamatan, keteguhan dan kebahagiaan yang telah mengakar sejak masa pra-Islam. Pada pemaknaan yang lain sesuai arti bahasa daerahnya bosu-bosu adalah tempat air menuju pada perlambangan kesucian mengingat sifat air yang suci.
  3. Ake merupakan hiasan yang bentuknya seperti patra (daun). Pada Istana Malige Ake dimaksudkan sebagai wujud kesempurnaan dan lambang bersatunya antara Sultan (manusia) dengan Khalik (Tuhan). Konsepsi ini banyak dikenal pada ajaran tasawuf, khususnya Wahdatul Wujud.
  4. Kamba/kembang yang berbentuk kelopak teratai melambangkan kesucian. Karena bentuknya yang mirip pula matahari, orang Buton biasa pula menyebutnya lambang Suryanullah (surya=matahari, nullah=Allah). Bentuk ini adalah tempat digambarkannya Kala pada masa klasik, dan merupakan pengembangan Sinar Majapahit pada masa Pra Islam di Buton,
  5. Terdapatnya Naga pada bumbungan Atap, melambangkan kekuasaan, dan pemerintahan. Naga adalah Binatang Mitos yang berada di Langit, bukan muncul dari dalam Bumi. Keberadaan Naga mengisahkan pula asal-usul bangsa Wolio yang di yakini datang dari daratan Cina.
  6. Terdapatnya Tempayan berlambangkan kesucian. Tempayan ini mutlak harus ada di setiap bangunan kamali maupun rumah rakyat biasa. dll

Kamali/Istana Malige dalam penataan struktur bangunannya, didasari oleh konsep kosmologis sebagai wujud keseimbangan alam dan manusia. Disisi lain keberadaannya merupakan media penyampaian untuk memahami kehidupan masyarakat pada jamannya (kesultanan) dan sebagai alat komunikasi dalam memahami bentuk struktur masyarakat, status sosial, ideologi dan gambaran struktur pemerintahan yang dapat dipelajari melalui pemaknaan lambang-lambang, simbol maupun ragam hiasnya secara detail.
Sangat disayangkan jika keberadaan bangunan maupun pemaknaan simbol tersebut cenderung di abaikan, contoh kasus adalah banyaknya bangunan rumah/gedung permanen (batu dan semen) di lokasi Situs Benteng Keraton Buton dan situs benteng lainnya di daerah ini yang jelas menyalahi konsep pelestarian. Kasus lain adalah keberadaan dari replika rumah adat Malige di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, menyalahi citra/image, karena bangunan tersebut telah di padukan dengan rumah etnis lain selain Buton, yang seharusnya di bangun secara terpisah agar Identitas dan keragaman khasanah rumah adat tradisional di Sulawesi Tenggara itu semakin jelas bukan malah samar-samar. Kasus lain yang lebih aneh adalah peng-karakter-an simbol Naga di Pantai Kamali Kota Bau-Bau, yang seharusnya Naga merupakan simbol binatang langit, bukan simbol binatang bumi.
Mari kita semua membuka jendela hati, dengan tetap berpedoman pada nilai-nilai dan kearifan budaya lokal, terutama dalam pemaknaan simbolis, baik itu lambang maupun ragam hias, sebagai karya monumental para leluhur yang masih tetap mengawasi tindak tanduk anak cucunya di dunia. Satu hal yang perlu kita ingat bersama bahwa “sesungguhnya manusialah satu-satunya mahluk yang dapat dibunuh dengan sebuah lambang (simbol)” (by Leslie White). Jadi, berhati-hatilah dengan sebuah simbol.

12 Tanggapan to “MAKNA SIMBOLIS PADA ISTANA MALIGE BUTON”

  1. Irianto Ibrahim said

    saya selalu memiliki ketertarikan ketika seseorang bicara tentang buton. entah karena apa. ia semacam suplemen dalam tubuh saya. saya menyukainya. tentang simbol atau apapun. tapi coba mari kita pikirkan bersama tentang dilema kamali dan terbengkalainya.

    anto

  2. Irianto Ibrahim said

    BUTON 1969

    begitu tahun-tahun menjadi sepi
    dan malam bergegas menyiak riak waktu
    kau tak usah mendesak laut menyurut
    atau pohon-pohon mengemis angin
    karena darah lebih kental dari luka
    lebih sakit dari kenangan

    mungkin kau butuh semacam nestapa
    atau ruang khusus penampung berkarung sesal
    sambil bersiul menanti pisau waktu
    yang berjubah hitam, persis nenek sihir

    bukan tawar menawar yang kau tunggu
    karena gagak tak pernah lupa alamat malam
    dari matanya yang menikam kelam
    meski berkali-kali kau menyebut ingin
    ia tak hinggap di sana
    tidak di deretan kata yang memuat namamu

    pulanglah, kembali ke bilik langit
    sambil bersiul sepanjang luka
    sepanjang kenangan yang menghanguskan
    tahun-tahun cerita
    seperti ketika kau melewati tanah perbatasan
    tanah yang dijaga para tentara yang selalu marah

    adalah peta yang sama kau jejaki
    dari ujung nadi terjauh
    tempat anjing-anjing kurus
    dengan liur yang tak pernah kering
    mendesakmu dengan seribu tuduhan
    semacam gua yang ditolak para pertapa
    kau khusuk menulis nestapa
    darah lebih kental dari luka
    lebih sakit dari kenangan

    Buton, 2007

  3. nadya said

    makna simbol pada rumah adat qt sangat luhur tapi saat ini sangat mengkhawatirkan, rumah-rumah dibangun sudah bercorak eropa, minimalis…..
    coba qt sebagai penerus membangun rumah mengambil simbol2 itu….maka budaya qt akan tetap lestari……jangan …jangan ….

  4. La Ode Ali Ahmadi said

    nadya,…. bantulah kami untuk realisasikan perda pelestarian benda cagar budaya Buton… itulah password, kita yang harus direalisasikan oleh PEMKOT BAU-BAU…ok

  5. Miana Bure said

    @ La Ode Ali Ahmad : menurut kami sebernarnya yang paling mendesak hari ini untuk segera diperdakan oleh Pemda dan DPRD Kota Bau-Bau adalah Perda mengenai Pelestarian situs dan bangunan tua di nKota Bau-Bau. kabarnya bangunan2 tua di kota Bau-Bau yang tadinya milik pemerintah banyak yang beralih kepemilikan menjadi milik pribadi.

  6. La Ode Ali Ahmadi said

    @ Miana Bure: ya saya s7 PERDA PELESTARIAN SITUS DAN BCB KOTA BAU-BAU, dan benar… dan kepemilikan itu sah-sah saja jika proses kepemilikannya sesuai dengan peraturan yang berlaku, seperti misalkan BCB/bangunan/rumah ( benda tidak bergerak) tersebut di peroleh secara turun temurun atau warisan,dan atau BCB; artefak/pusaka/brng antik, dsb (bergerak dapat dipindahkan)yang jumlah dan jenisnya cukup banyak di jumpai sebagai koleksi dimasyarakat umum atau tempat-tempat penjualan benda cagar budaya dan negara sudah cukup banyak memiliki serta penyebarannya merata, anda akan memahaminya jika membuka UUD No. 5 tentang BCB, dan peraturan lainn yang mendukung UUD tersebut.Bangkitmi Buton….Itu Bulawambona sudah berdiri di depanMU..

  7. Miana Bure said

    @LA Ode Ali Ahmad : sekrang aturanya sdh jelas tinggal bagaimana para pemangku kepentingan mengaplikasikan peraturan2 tersebut sehingga dapat menjadi rahmat dan bukan menjadi laknat bagi negeri kita….

  8. La Ode Ali Ahmadi said

    @miana burukene; orang tua kita di Buton selalu mengatakan ” Tunggu Waktunya”, sebenarnya kata itu adalah motivasi untuk kita kaum muda berinteraksi dan berbuat… sebab Allah tidak merubah nasib suatu kaum kalau mereka tidak berbuat”, saya hanya berfikir tentang konteks suatu kaum, berarti suatu kumpulan orang-orang yang memiliki persepsinyang sama dan kalau disederhanakan memiliki visi dan misi yang sama!!!, kita adalah sekelompok generasi Pelestari, dan kita sama2 resah untuk memperjuangkan kebenaran yang sama, intinya adalah bekerja samalah secara benar dan perjuangkan ke Intelektualan kita sesuai dengan kebenaran, asal jangan sektarian, kalau di simpulkan dikatakan bahwawa; “BOLEH PREMORDIAL ASALKAN JANGAN SEKTARIAN…… Realisasikan Buton Raya, 7 wali di Depanmu….

  9. Nardiansyah said

    Benarkah di dalam perut Bumi Buton ada Seekor Naga raksasa ….???
    yang pada saatnya nanti akan muncul… ???
    pertanyaan yang bodoh skaligus nakal…, tapi mungkin saja sebab p. buton adalah pusat’y Bumi bisa jadi hewan2 pada masa lampau bukan’y musnah atau mati tapi hidup di dalam perut bumi….
    Allahuahlam bishowabb…..

  10. siolimbona said

    saya senang punya “anak” sperti la Ode Ahmadi ini tapi alangkah indahnya kalo tidak dibumbuhi dengan mistisme dan mitos seperti Bulawambona berdiri didepanmu atau 7 wali di depanmu karena itu pernyataan yang sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan.

    Pengkana La Ode… boli tangka lipo etatonduakea

  11. muhammad hakim said

    @La Ode Ali Ahmadi: mengapa harus menggunakan kata Buton Raya? tidakkah cukup dengan kata Buton saja?
    —–
    tentang perda pelestarian bangunan bersejarah dan budaya kesultanan Buton, sekalian dirancang paket-paket wisata budaya guna menambah PAD dan membuka lapangan kerja bagi generasi muda Buton. Masa dari dulu selalu yang diharapkan adalah menjadi PNS?

  12. Alimani said

    Assalamu ‘alaikum WR, WB,
    Seluruh simbol – simbol kesultanan Buton yang terkenal agung dan maha dasyat itu , Subbuhannallah,,,,,, !!!! mudah2an sudah disusun dalam sesuah buku atau mudah-mudahan sudah dibukukan dengan baik, secara berjilid, maka semestinya dapat dijadikan kurikulum pendidikan (muatan lokal) bagi generasi penerusnya,,,,,, semoga …..!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: